27 January 2006

Novel Baru : MISSING!

Kedatangannya tidak pernah kuduga akan membuat kisah hidupku menjadi sangat rumit. Bagaimana tidak, sosoknya yang sederhana mampu memporakporandakan hatiku yang bahkan lebih keras dari baja. Dimanakah aku akan menemukannya kesederhanaan itu setelah segala tentang kisah cinta kami berakhir. Berakhir? Ya, berakhir ketika aku dengan sadar atau tidak sadar telah membiarkannya lepas dalam genggaman. Cintaku, kemana aku akan mencarimu?
***
Cinta memang sangat penting bagi hidup kita. Dan bodohnya, aku baru menyadari itu setelah aku kehilangan dia. aku tidak bilang kalau lelaki itu adalah belahan hati yang paling sempurna, tapi sejenak setelah aku kepergiannya aku benar-benar merasa kehilangan separuh dari diriku. Aku mengejarnya kembali, tapi dia tidak mengijinkan aku mendekatinya, bahkan menyentuh bayangannya pun aku tak bisa. Aku memberontak pada rasa sakit hati dan penyesalan selama bertahun-tahun. Tapi, aku tahu hanya aku yang merasakan penderitaan itu, sedangkan dia? Entahlah…
Hingga kini aku tidak bisa percaya kalau dia bukan milikku lagi. Aku kehilangan dia. kehilangan seseorang yang kuanggap akan menjadi lelaki terakhir dalam hidupku. Membina sebuah mahligai perkawinan dengannya, memberinya banyak anak yang tampan dan cerdas, lelaki yang setiap bangun tidur dapat kupeluk dan kuciumi. Aku kehilangan dia, bagian dari mimpi yang ingin kubangun menjadi kenyataan.
Bagaimana aku harus menyebutnya? Sempurna? Tidak, dia tidak sempurna, beberapa bagian dari dirinya tidak terlalu istimewa, bahkan itu yang menyebabkan kami seringkali berbeda. Tapi, dia begitu sabar dan tenang menghadapi kerasnya sikapku. Aku baru menyadari kalau dia yang paling mungkin bisa mengerti aku. Dia sangat pengertian, ramah, simpatik, walau terlalu pendiam untuk ukuran lelaki modern sekarang.
Dia sangat memahamiku. Dia tak pernah membalas lontaran-lontaran kemarahanku. Dia seringkali membuatku tersadar atas segala kesalahan. Dia sangat mengagumkan dan aku benar-benar bodoh telah membiarkannya berlalu.
Dia tak pernah menjanjikan banyak hal padaku. Tapi sikapnya telah menunjukkan bahwa dia bertanggungjawab pada apa yang dia lakukan. Dia telah menjadikan diriku merasa istimewa dengan setiap pelukan dan ciumannya. Dia menjadikan aku begitu indah dengan pesonanya yang hanya diberikan padaku. Dia sesungguhnya impian banyak wanita saat ini. Karena dia adalah tipe lelaki yang paling sulit ditemukan untuk zaman sebobrok sekarang. Dia sangat mempesona walau bersamanya selain rasa nyaman aku tak pernah merasa percaya diri untuk bisa membahagiakannya.
Dia adalah belahan jiwaku entah sampai kapan.
***
Sebelum kubuka mataku aku merasa wangi tubuh Hakim begitu menyengat. Lalu kenangan itu kembali menguat.
"Kamu cakep banget hari ini." Ujarku ketika dari sudut mataku yang mengantuk melihat Hakim sedang ada di sisi ranjang.Tubuhnya dibalut dengan pakaian serba putih yang membuatnya terlihat begitu tampan. Rambutnya berkilau diterpa sinar yang masuk melalui jendela kamar dan pipinya merona merah karena malu akan pujianku.
"Ayo bangun sayang. Matahari sudah bersinar, hangatkan dirimu." begitu katanya dengan suara lembut. Jemarinya yang terasa hangat di pipiku saat disentuh olehnya. Aku menutup kembali mataku dan kemudian membukanya kembali, hem, akhirnya aku tersadar ini hanya halusinasi semata. Aku berpikir sedemikian kuatkah kenangan itu bersamaku. Bahkan sosok Hakim tampak begitu nyata.
"Hakim..biarkan aku memelukmu." Pintaku berusaha meraih tubuhnya yang kian memudar seperti cahaya.
Hakim menggeleng lalu benar-benar menghilang.
"Tidak!!" aku berteriak.
"Hakim, jangan tinggalkan aku." Ujarku dengan suara melirih. Lalu, aku menangis. Dari sudut mataku tampak sebuah pisau tersenyum dan memintaku mengambilnya.
"Bunuh diri?" tanyaku padanya. Seolah-olah pisau itu setuju atas usulku. Perlahan dengan gemetar tanganku mengambilnya.
Kring…
Dering telepon membuatku tersadar kembali.
Kring…
Beberapa kali aku mencoba bunuh diri dan berhasil di selamatkan malaikat.
Kring…
Kali ini malaikat menyelamatkanku lagi. Dengan langkah pelan aku menggapai dan mengangkat telepon.
"Selamat pagi, Sinta" sapaku sambil menghela nafas dengan berat.
"Apa kabar sayangku yang manis. Sudah berapa ember tangisanmu hari ini?" suara lembut itu terkekeh.
"Kali ini aku tidak menangis. Aku malah sedang menikmati kenanganku bersamanya." Aku berusaha sedikit menutupi kesedihan. Kadang aku malu pada Sinta, sahabatku ini mungkin sudah sangat bosan dengan keluhan penyesalanku. Hampir tiga tahun aku menangisi kepergiannya.
"Hemm, kamu bisa menangis dan tertawa mengingat kenanganmu dengannya. Tapi, sampai kapan kamu mengingat hal itu? Ingat non, usia kita terus bertambah, sudah saatnya kamu membuka diri bagi lelaki lain yang mencintaimu.Hidup bukan untuk mengingat-ngingat kenangan tapi untuk melalui kenyataan penuh keyakinan." Ribuan kali Sinta menyarankan aku untuk segera membuang kenanganku bersamanya. Tapi ribuan kali itu batinku memberontak untuk tetap menikmati penyesalan dan kenangan bersamanya. Walaupun itu hanya membuatku merasa sakit.
"Aku tidak tahu sampai kapan penyiksaan ini berakhir." Nafasku tertahan," Bahkan mungkin di belahan dunia yang lain, Hakim sudah berbahagia dengan seseorang." Mataku berkaca-kaca membayangkan itu.
"Itu dia!Kenapa kamu tidak memikirkan itu? Jika dia berbahagia, kenapa kamu tidak?" suara Sinta terdengar sarat emosi.
"Aku ingin sekali saja bertemu dengannya dan meminta maaf atas segala kesalahan. Setelah itu mungkin hatiku akan lebih lega." Kataku, seraya bersandar pada kursi, meletakkan tubuh yang terasa lelah akan beban.
"Tapi, kemana kamu akan mencarinya? Jika kamu tidak berhasil menemuinya, apakah berarti kamu akan selalu seperti ini, selamanya?"Sinta mendesakku dengan jawaban yang sesungguhnya dia sudah tahu. Aku akan terus mencari Hakim, menemuinya, meminta maaf, dan memintanya kembali. Jika itu tidak dapat terjadi..Entahlah…pikiran-pikiran ekstrim sudah ada di kepala.
"Serayu…" panggil Sinta lirih
Aku tetap diam
"Sin, jelaskan padaku mengapa cinta sangat mengerikan?"
Terdengar tawa Sinta mendayu
"Cinta hanya akan menjadi menyakitkan jika dipandang menyakitkan, dan akan sangat menyenangkan jika dipandang menyenangkan. Jika kamu malah memandang cinta mengerikan, maka si cinta akan menjadi mengerikan..hrrrk.." terdengar suara Sinta menyerupai monster di film kartun anak.
Aku tidak ingin tertawa mendengar suara konyolnya
"Aku menginginkan dia kembali dan akan sangat mengerikan jika aku tidak dapat menemukannya. Semakin aku mencoba memupus bayangannya, semakin tebal ingatanku akannya. Aku tidak mungkin bisa melupakannya tanpa meminta maaf padanya. Aku bersalah, aku menyesal." Gumanku pedih. "Dan tolonglah, bantu aku mencarinya."
"Be realistis!"
"Tolonglah.." pintaku mengiba
"Tapi kemana Serayu sayang? Dia memang hilang. Bahkan siapa yang tahu dia sudah mati." Suara Sinta mengeras
Airmata ingin menyeruak turun, tanganku langsung mengusap pelupuknya, " Seharusnya aku tidak memutuskan hubungan kami. Seharusnya sejak dulu aku menyadari bahwa aku harus menerima segala kekurangannya. Seharusnya aku tahu, dia yang paling mengerti mengenai aku dan aku takkan pernah menemukan lelaki sebaik dirinya." Rintihku
"Hemm, bagaimana dengan pengobatanmu?" Sinta mengalihkan pembicaraan. Mungkin dia bosan mendengarkan penyesalan itu.
"Baik. Sesungguhnya karena pengobatan itu aku bisa lebih ringan."
"Syukurlah. Aku yakin dengan sejalannya waktu dan keinginan kuat darimu untuk sembuh, kamu akan menjadi Serayu yang ceria seperti dulu. Ah, aku merindukanmu."
Ya, betapa aku rindu menjadi dulu.
"Lantas, karya apa yang sekarang sedang kamu garap?"
"Aku sedang membuat puisi."
"Wow, keren! Bolehkah aku mendengarnya?" Sinta bertanya. Tentu saja aku senang. Sinta adalah kritikus terbaikku.
"Tentu. Sebentar aku ambilkan kertas coretannya."
Aku melangkah pelan ke meja coklat, dimana terdapat begitu banyak kertas berserakan. Mengambil sebuah kertas di tumpukkan atas, dan kembali meraih gagang telepon.
"Baiklah, ini puisiku…Aku mempersembahkan ini untuk Hakim, karenanya aku memiliki banyak inspirasi untuk menulis."
"Hemmm, itulah manfaat yang bisa kamu ambil dari kenangan itu. INSPIRASI!"
Lantas, aku memulai membaca…
"Sin..kamu masih di sana?" aku bertanya setelah penggalan puisi dibacakan
"Hemm, bukankah dalam puisi itu kamu menginginkan kebahagiaan untuk kalian berdua, dimana pun kalian sekarang terpisahkan?" suara Sinta menekan.
"Ya, aku mengharapkan itu bisa menjadi kenyataan."
Sinta terdiam, "Semoga saja kamu bisa bahagia."
"Sin, sudah hampir tiga tahun ini aku seolah mengasingkan diriku sendiri. Apakah aku masih layak berharap bahwa aku diterima di dunia yang sebenarnya?"
Sinta terkekeh
"Pada dasarnya semua orang merindukanmu sayangku. Mereka menunggu kamu kembali. Aku menyarankan supaya kamu kembali bersama kami dan melakukan perubahan hidup yang lebih fantastik"
"Kamu punya usul?"
"Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama dan ingin mengusulkannya padamu. Jika kamu memang benar-benar ingin mendapatkan Hakim kembali, kamu bisa memanfaatkan inspirasi darinya untuk membawanya ke sisimu lagi."
"Maksudmu?"
"Bukankah selama hampir tiga tahun ini kamu hanya hidup untuk merealisasikan inspirasi melalui tulisan. Aku yakin goresan penamu sangat bagus karena itu langsung muncul dari hati. "
"Lalu…?"
"Bagaimana jika kamu menyerahkannya ke penerbit? Aku yakin kamu akan terkenal karenanya."
"Tidak! Tulisanku tentang Hakim hanya untukku sendiri. Alangkah memalukan jika seluruh dunia tahu aku putus asa karena cinta."
Sinta terbahak-bahak
"Sudah terlanjur sayang. Semua yang ada di sekelilingmu sudah tahu. Bukankah kamu sendiri yang tanpa sengaja memperlihatkannya? Ketika perpisahan terjadi, saat Hakim menghilang, kamu pun ikut menghilang dari seluruh komunitas. Memilih tinggal di tempat lain, dimana tak ada seorang pun mengenalmu dan tidak memperbolehkan kami menjengukmu."
Aku terdiam, berusaha keras mencerna ucapan demi ucapan Sinta.
"Sin, sudahlah jangan terus menerus menekanku."
"Aku tidak menekanmu. Aku hanya memberikan solusi untukmu. Bayangkan ketika kamu terkenal dengan karyamu. Bukankah besar harapan hakim pun mengetahuinya? Mendengar rintihanmu itu, aku rasa dia akan kembali. Dia memahami kepedihanmu."
"Sin…"
"Berdoa tidak cukup untuk membuatnya kembali. Meratapi nasib tidak akan bisa menemukannya. Kamu butuh tindakan nyata. Aku rasa ideku bagus. Ya kan?"
"Sin..sudahlah, itu konyol!" ujarku
"Oke, oke, tapi pikirkanlah. Siapa tahu kelak kamu berubah. Kamu harus lebih kreatif menemukan solusi. Hemm, lagi pula pikirkanlah bahwa aku, ibumu, dan semua teman sangat merindukanmu."
"Terima kasih. Aku akan memikirkannya."
"Baiklah. Dan segera kabari aku jika ada perkembangan bagus. Teruslah berobat ke psikiatermu dan sampaikan ideku padanya. Oke?"
"Ya, Sin. "
Aku meletakkan telepon, meremas kertas di genggaman. Sekarang, usul baru dari Sinta berputar-putar di kepala. Apakah usulnya memang baik untuk kulakukan?
***
Lelaki berkumis tipis itu menyunggingkan senyumnya ketika melihatku datang.
"Apa kabar, Serayu?" tanyanya sambil mempersilahkan aku duduk
"Alhamdulillah lebih baik." Jawabku sambil mengulas senyum tanpa henti, "Saya tidak terlambat kan, Dok"
"Beberapa menit masih ditoleransi." Jawabnya
"Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Masih sakit. Bahkan bayangan Hakim tadi pagi mendatangiku lagi. Dia memintaku untuk bangun." Jawabku
"Betapa cinta itu mampu mengubah halusinasi tampak sedemikian nyata."ujarnya sambil melepas kacamata kecilnya, "Tapi, bagaimanapun juga saya harus bilang bahwa kamu akan sembuh dari penderitaan ini jika keinginanmu untuk sembuh juga kuat."
"Jika Hakim kembali, kemungkinan saya sembuh." Ujarku datar
"Hemm, jangan terlalu berharap banyak, Ayu. Lebih baik kamu menyembuhkan dirimu sendiri. Itu lebih baik." Dia kembali memasang kacamatanya.
Selama beberapa menit, aku terdiam begitu pun dia. Dr. Erwan Juhara adalah seorang psikiater yang merawat mentalku sejak aku mengasingkan diri. Dia berusia enampuluhan tahun,memiliki seorang istri yang cantik, dan seorang anak perempuan seusia denganku. Itu sebabnya dia begitu telaten merawatku, dia membayangkan bahwa aku adalah anaknya.
"Tidak mungkin selamanya kamu menutup diri di tempat itu, Ayu." Akhirnya dia kembali bicara, "Kamu adalah manusia yang selalu butuh berinteraksi dan bersosialisasi agar pikiranmu tidak buntu dan hanya terpaku pada satu persoalan."
Aku tidak menjawab, hanya membalas tatapannya dengan diam.
"Saya sedang memikirkan salah satu ide dari Sinta."
"Ide apa itu?"
"Kembali ke rumah dan menerbitkan karya-karya yang saya hasilkan selama ini."
Dokter Juhara menjentikkan jari, "Bagus sekali idenya."
"Tapi saya belum memikirkannya dengan matang. Apakah saya akan melakukannya atau tidak." Jawabku gelisah.
"Itu usul yang bagus. Ayu, dengarkan saya. Masa depanmu masih panjang. Waktumu hanya akan sia-sia jika kamu terus meratapi perpisahan dan terobsesi pada Hakim. Lebih baik kamu menggapai setiap kesempatan yang bisa kamu raih. Saya membaca tulisan-tulisan bagusmu dan saya yakin itu bisa menjadi buku yang laris."
"Terima kasih, Dokter telah berupaya sangat keras untuk saya."
"Saya hanya bisa membantu semampu saya. Tapi, kesembuhan ada di tanganmu sendiri, Ayu. Secanggih apapun obat atau teknologi penyembuhan, seahli apapun Dokter, seseorang tidak akan sembuh tanpa keyakinan dari dalam dirinya sendiri."
Sebagai jawaban aku menunduk, memandang lantai tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ketika aku mengangkat kembali wajahku, Dokter Juhara masih menatapku.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanyaku memelas
"Kembalilah. Raih masa depanmu dengan atau tanpa lelaki itu. Dunia ini terlalu indah untuk kamu sia-siakan." Suaranya tampak lembut namun tegas. "Potensimu yang luar biasa jangan di lupakan. Menulislah untuk dirimu sendiri dan orang lain. "
"Menurut Sinta tulisan saya dapat membawa Hakim kembali. Bagaimana menurut Dokter?"
"Buang sejenak harapan itu. Saya takut kamu kecewa kembali. Biarkan semuanya berjalan apa adanya, tanpa harapan yang terlampau tinggi."
"Apakah Anda pikir ini merupakan solusi yang baik untuk saya?" aku bertanya sekali lagi tentang keputusan apa yang akan aku ambil, "Apakah saya harus melakukannya?"
"Ya. Saya menyarankan hal itu kamu lakukan. Lakukan perubahan dalam hidupmu. Saya rasa masa depan kamu sangat gemilang."
"Mampukah saya melupakan Hakim?"
"Semua ada dalam hatimu. Jika kamu mau, kamu bisa terus mengingatnya, namun hindarilah keinginan dan harapan yang berlebihan atas dia. Dekatkan dirimu pada Tuhan agar hatimu lebih tenang"
"Ada nasehat lain, Dok?"
"Saya menyanyangimu, Ayu. Jika ada yang tidak beres dengan dirimu, datanglah kemari."
Aku berkaca-kaca mendengar ucapannya, "Terima kasih."
"Lantas apa yang akan kamu lakukan sekarang, Ayu? Apakah kamu akan melakukan ide yang bagus itu?"
Aku mengangguk pelan, "Ya. Saya harap semuanya berjalan lancar."
"Saya doakan, anakku." Hatiku yang sangat gelisah mulai mereda dengan dukungan yang diberikan Dokter Erwan. Aku terus saja berusaha mengikis sedikit demi sedikit kebimbangan yang hadir dengan menumbuhkan keyakinan. Setelah bertukar pikiran dengannya, akhirnya aku mengambil keputusan. Berjalan perlahan dan sambil melambaikan tangan aku menuju ke luar ruangan, Dokter Juhara memandang kepergianku dengan mata berkaca. Dia melepas pasien yang depresi karena cinta.
***
Penderitaan perpisahan dengan kekasih memang selalu menjadi inspirasi bagi sebagian karya sastra yang paling indah dan abadi di dunia ini. Bahkan Schopenhauer si filsuf menulis bahwa setiap perpisahan memberi cita rasa kematian ", sebuah persepsi yang tepat khususnya untuk perpisahan-perpisahan di masa perang, yang sarat dengan ketakutan-ketakutan tentang apa yang dibayangkan akan terjadi." Betapa tak terperinya rasa sakit yang diakibatkan dari perpisahan, seperti janda Pangeran Troya yang terpaksa merasakan penderitaan itu.
Tapi, ini memang kasus yang berbeda. Mereka terpisah tanpa mereka mau, perang memaksa mereka menderita karena cinta. Sedangkan aku? Aku yang membiarkan dengan sengaja perpisahan itu terjadi. Kini, aku sendiri yang menderita.

Selanjutnya??? TUNGGUIN AJA!

No comments: