17 July 2005

Novel Baru1 : GENGSI!!!!

Bab SATOE...

Perubahan dimulai dari diri sendiri.


Tanggal satu, Yes! Ini berarti gajian. Wajahku langsung sumringah mengingat itu. Bagaimana tidak? Gaji yang kutunggu jatuh sebulan sekali saja dan ini berarti aku akan membereskan segala sesuatunya.
Pertama : aku ingin membeli sepatu Rosana yang kemarin aku lihat di butiknya. Sepatunya sih sederhana tapi memang enak dipake dan cukup menggoda.
Kedua : Membeli baju-baju bagus dan tentu saja mahal untuk menjaga penampilanku sebagai seorang marketing tulen yang sukses..uups..ada gak ya duitnya???
Ketiga : Bayar kartu kredit yang lebih dari limit..oh!
Keempat : bla..bla..bla
Tapi mengingat hal-hal itu wajah sumringahku langsung melipat. Emang berapa besar gajiku? HAH! Tekor..ini pasti tekor lagi! Ini pasti karena gaya hidupku harus mengikuti gaya orang-orang di sekelilingku. Gaya orang sukses! Hiks…!
Dan uang gajiku seolah hanya numpang saja di saku kemudian dalam sekejap langsung mengalir keluar tanpa perasaan. Dompetku nyaris kerontang di tengah bulan kemudian terisi kembali dengan uang panas dari kartu kredit. Nelangsanya aku!
Kepengennya sih dengan posisiku yang lumayan di perusahaan aku bisa menghasilkan banyak uang. Tapi apa daya perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan besar yang ogah banget gaji karyawan lebih. Pelit! Padahal gaweanku bukan main banyaknya, semua orang sepakat aku sibuk. Bahkan sibuuuuuk banget! Kayak setrikaan kesana kemari tanpa lelah. Semua karena aku memang punya kerjaan banyak dan jadi orang sibuk dengan penghasilan MINIM! Tapi apa daya semua orang menganggapku seorang wanita sempurna yang punya segalanya, karier bagus, sukses, dan bahagia. Jadi aku harus menampakkan diriku seperti itu. Begitu menyiksa!
Dan ini juga gara-gara aku punya keluarga yang sukses. Sebagai anak satu-satunya yang kebetulan berasal dari sperma orang sukses dan dilahirkan oleh seorang wanita sukses maka aku menyandang anak sukses. Padahal…
Belum lagi semua sepupuku semua nggak ada yang enggak sukses. Semua tajir alias kaya alias orang kaya dengan penghasilan WOW..jadi aku harus menjadi bagian dari mereka. Minimal terlihat seperti mereka. OH!!!
Dan…..
Semua orang sepakat bahwa aku adalah wanita karier yang sukses.Tapi mereka salah. Aku bukanlah wanita karier yang sukses!
Semua beranggapan bahwa kesibukanku yang menggunung jika dinominalkan dengan uang maka adalah jutaan dalam saku perbulannya.Tapi mereka salah. Aku hanya perempuan berpenghasilan tiga jutaan perbulan.
Dan semua beranggapan bahwa aku telah memiliki segalanya dan aku bahagia. Mereka sungguh salah..sangat salah..karena aku tidaklah bahagia!!!!
Ini adalah rahasia dari diriku sendiri dan aku ingin semua orang tidak beranggapan bahwa aku adalah sang wanita sempurna. Aku bukan wanita karier sukses, aku bukan pula jutawan, dan aku tidak bahagia!
Ah lupakanlah, ini tanggal satu dan aku harus seceria biasanya dong. Jangan pernah memperlihatkan penderitaan yang dialami oleh kita. Pendam terus..sampai jantungan..dan bawa mati tuh rahasia. Rahasia kalau aku bukanlah orang sukses.
Hap..wake up girl!!!
Wake up…!
Bino masih ngerengkol di kaki kiriku. Inginnya aku jadi Bino. Kucing cantik yang nggak punya beban apapun. Happy ever after!
"Bin, seriusan nih nggak mau bangun." Aku menggoda Bino yang masih enak males-malesan. Kugerak-gerakkan kakiku.
"Miaaaw…" Bino bersuara pelan. Malas!
"Bangun, Bin. Tanggal satu nih!" lho emang apa artinya tanggal satu buat si Bino? Bulu-bulunya yang jabrik terlihat kusut, sekusut hatiku. Pagi-pagi kok udah kusut? Tentu saja! Setiap pagi aku harus memeras otak untuk menjaga sikap agar tetap terlihat sukses seperti harapan semua orang. Puiiih! Aku ingin jadi Bino!
"Miaaaw.."hemmm…malas. Dan inginnya aku bermalas-malasan seperti Bino!
"Oke, Bin. Silahkan tidur kembali tuan Raja. " aku beranjak dari ranjang. Bino tetap tidur seolah tak terganggu.
Aku maksain diri untuk bangun, tujuan pertama yang ingin kulihat adalah Time plannerku. Time plannerku, buku berukuran sedang yang mencatat semua daily planku dari tanggal satu ampe akhir bulan kemudian ke tanggal satu bulan berikutnya dan seterusnya, catatan kegiatan dari pagi sampe malam. Uuuh, membosankan!
But, bagaimanapun aku harus terlihat ceria. Bukankah aku orang sukses? Oh, God!
Setiap hari kegiatanku bejubel, sok sibuk gitu deh! Semua orang bilang ini karena aku adalah wanita karier yang sukses padahal ini karena aku yang gila kerja dan membuat diriku terlihat sukses! Semua karena GENGSI!
Ya Gengsi, gengsi juga dong seorang Malia Sheren Akbar, anak seorang dokter ahli kandungan beken di kota kembang dan anak dari seorang notaris paling mahal di kota kembang juga musti jadi wanita biasa-biasa saja. Beban..ini beban dari nama besar mama dan papa! Kadang suka nyesel kenapa aku musti dilahirkan di keluarga sukses ini. Nyesel karena karena kalau aku tidak bisa nyaingin kesuksesan kedua orang tuaku aku bakalan nahan malu seumur hidup. Padahal aku bilang bahwa gajiku nyampe sepuluh juta adalah bohong, aku seorang eksekutif muda itu juga bohong, aku bilang bahwa aku sukses itu juga bohong (eh mereka yang beranggapan aku sukses sih, padahal…), dan aku bahagia itu juga bohong. Tuhan tolong, semua yang ada di pikiran mereka adalah salah.
Kedua orang tuaku kaya dan sukses.
Papaku, Budiman Akbar, seorang dokter ahli kandungan yang paling beken di kota kembang. Sukses, sibuk, dan banyak uang.
Papa bilang orang tuanya yakni eyang kakung dan eyang putri adalah orang tua yang juga sukses, itu sebabnya papa sejak kecil dipersiapkan menjadi orang sukses juga. Kehidupan papa dibuat sedemikian teratur. Mungkin kehidupan yang monoton dan membosankan tapi itu adalah kewajiban yang harus diikuti.
Katanya, pagi, siang, dan sore bahkan malam papa diwajibkan untuk berkutat dengan belajar, belajar, dan belajar. Tapi dasar papanya yang juga pinter, belajar buatnya bukan sesuatu yang menjemukan. Keinginannya untuk bisa sesukses orang tuanya telah memotivasi papa untuk terus maju pantang mundur.
Eyang kakung adalah seorang juragan batik. Tapi dari empat anaknya hanya satu yang dipersiapkan meneruskan usahanya sebagai Juragan batik yaitu anak paling sulung, Pa puh Daus Akbar. Anak-anak yang lainnya akan dipersiapkan menjadi orang-orang hebat. Hasilnya? Terwujud!Anaknya yang kedua, Pa puh Abdullah Akbar kini menjadi seorang pengacara paling laris di negeri ini. Wajahnya kerap muncul di layar kaca sebagai pembela kaum-kaum jet set yang tertimpa masalah. Bayangkan kaum jet set yang di bela, berapa bayaran yang diterimanya di setiap kasus? Mudah saja! Puluhan juta atau ratusan juta atau mungkin bisa dengan nol sembilan. Ini keliatan banget dari pola hidupnya yang serba glamour. Pa Puh Muhammad Akbar adalah seorang Arsitek dengan bayaran ratusan juta. Dan terakhir adalah papaku yang juga tak kalah sukses dengan ketiga kakak-kakaknya. Lalu bagaimana dengan anak-anak mereka? Ya, semuanya berhasil menjadi seseorang. Semua sepupuku menjadi orang sukses. Sayangnya, menjadi seseorang dan kategori sukses di Negara kita ini selalu dikaitkan dengan berapa jumlah uang yang dimilikinya. Dalam arti kata secara turun temurun mereka berhasil menjadi orang kaya. Lalu bagaimana dengan aku? Aku tidak kaya tapi aku dikategorikan sebagai orang kaya juga. Padahal….
Ah, sungguh…aku tersiksa berada di tengah-tengah mereka.Tapi aku masih beruntung menjadi anak satu-satunya mama dan papa karena kalau saja aku memiliki satu, dua atau tiga saudara sekandung. Bukankah ini akan lebih menyiksa? Bagaimana jika mereka lebih sukses dibandingkan aku? Atau lebih parah mereka sama-sama terbebani dengan kesuksesan mama dan papa? Untunglah..untunglah..dan mudah-mudahan hanya aku saja di dunia ini yang merasakan hal ini. Merasa terbebani dengan kesuksesan orang tua!!
Padahal Fakta yang benar tentang aku adalah :
Karierku hanya sebagai Marketing dengan gaji tiga juta
Bahwa perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan besar dengan fasilitas dan tunjangan minim
Aku tersiksa menyandang gelar wanita karier sukses, dan diharapkan akan sama suksesnya dengan kedua orang tuaku
Aku harus menghidupi diriku dengan segala yang serba high class. Padahal kadang aku harus menggesek kartu kredit karena kehabisan uang untuk membeli ini dan itu
Aku harus tersenyum ramah pada semua orang. Padahal aku lagi sumpek pikiran dan perasaan. Ini karena nama besar orangtuaku.
Aku harus menghadiri acara ini dan itu demi membuat orang tuaku yang sukses senang. Kemudian diperkenalkan sebagai seorang yang sukses pula. Mereka bangga, tapi aku nelangsa.
Aku ingin menjadi diriku sendiri. Tapi bagaimana caranya????.......
Ah, persetan yang jelas hari ini aku ada pertemuan dengan Bos dari PT. Sindarta Gautama. Bapak Alexander.
Aku bergerak ke arah lemari. Tumpukan baju yang ada tidak begitu menarik lagi buatku. Bagaimana mungkin seorang wanita sukses memakai baju yang sama berkali-kali. Aduh, tapi bagaimana mungkin aku membeli lagi setelah mahal merk Gucci kalau aku harus bayar tagihan kartu kredit yang limit? Bingung!
But, sudahlah! Anggap saja mereka tidak tau tentang baju itu.
Yap, aku menarik keluar setelan Gucci kembali yang kupakai untuk beberapa pertemuan. Termasuk pertemuan pertama dengan Bapak Alexander yang tampan itu.
Tok..tok..tok
Pintu kamar diketuk
Aku menyahut, "Masuk aja, nggak dikunci."
Wajah mama menyembul, "Kok baru bangun?" tanya wanita setengah baya dengan riasan make up tebal dan baju keren. My Mom..my great mom.
"Baju baru, Ma?" aku belum sempat menjawab pertanyaan mama karena mataku udah jelalatan ke baju yang dikenakan mama.
"Yup, sepulang pertemuan kemarin mama melihat baju bagus ini. Keren kan?" tentu saja keren. Itu pasti mahal.Pertemuan? pertemuan dimana? Pasti pertemuan di butik baju lagi kan?
Aku mengangguk, lalu tatapanku beralih ke baju yang sedang kupegang, Tentu saja aku kalah jika dibandingkan dengan mama.
"Baru bangun?" mama mengulangi pertanyaannya. Bibirnya yang bergincu merah mencium pipiku.
"Enggak juga, mama mau pergi sekarang?"
"Ya, hari ini kerjaan mama banyak banget, jadi kudu nyampe kantor pagian. Hemmm, kamu boleh pinjam baju mama kok." Ah, mama seolah tau kesulitanku pagi ini. Pinjam baju mama? Boleh juga. Dan beberapa kali aku meminjam bajunya, beruntunglah ukuran badan kami sama persis. Sebagai wanita karier sukses mama yang udah berusia setengah baya amat peduli dengan penampilan, hasilnya? Kalau aku dan mama berjalan kami seringkali disangka kakak adik. Jadi, apakah aku yang berwajah tua atau mama yang keawetan muda? Ah, peduli amat yang penting bisa pinjam baju mama.
"Oke…" aku menjawab girang. Hore, aku selamat!
Uupss…gila udah jam setengah delapan pagi. Aku lari ke kamar mama..
Bruuuk..tubrukan!
"Pa..sorry."
"Lho kok keliatan kayak orang dikejar setan sih." Ujar Papa sambil menjawil pipiku. Wangi parfum papa menyengat. Hueeek!
"Mau kemana?" tanyanya sambil menyambar kunci mobil di meja depan pintu kamar
"Pinjam baju mama." Jawabku sambil ngeloyor pergi. Kudengar papa terkekeh mungkin dia heran wanita sesukses aku masih juga pinjam baju. Hemm…who care lah!
Deru mobil papa terdengar dan aku berhasil menemukan baju bagus untuk kupakai hari ini. Yes!
Aku langsung ngacir ke kamar mandi.
Byar..byur…byar..byur…
Siip deh. Mandi itu gak perlu lama-lama yang penting di sabun..hehehe… ya nggak setiap mandi kayak gini sih. Kalo lagi kepepet aja!
Siip deh..aku siap berangkat kerja dan tampil sebagai orang.…hem, bingung!!!!
***
Biarpun hari ini gajian tetaplah aku benci hari ini. Ini hari senin, man! And I hate Monday!!!I hate Monday karena senin berarti aku harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan saat sabtu kemarin. Sabtu saat kami mengadakan rapat mingguan. Semuanya berkaitan dengan presentasi dan target! Puiih, udah pasti peluh bakalan berkejaran di dahi, otak bergemuruh karena penat, dan stress! But anyway, aku harus menekan perasaan itu apalagi aku adalah orang sukses di mata semua orang. Orang sukses! Pliiiis deh!
Baru saja masuk ruangan, telpon di mejaku sudah berkring-kring ria
Kring..kring..kring
"Melia here. Who's speaking?" tanyaku ramah. Ramah sekali! Sok berbahasa Inggris pula. Biasa iseng.
"Mel, gimana presentasi hari ini? Udah nyiapain aula belum?" uups, baru datang aku udah ditanyain gawean. Iya, pasti aku inget! Hari ini Bapak Alexander tercinta mau mengunjungi perusahaan kami dan kami akan memakai aula.Seperti biasa yang mengingatkan aku akan hal itu adalah rekan kerjaku yang bawel, Ajeng alias miss thin. AKu menyebutnya miss Thin karena dia punya badan yang aduhai kerempeng. Tipis dari sana sini. Dari belakang, depan, samping, atas, dan bawah.pokoknya triplek banget deh!
"Kayaknya si Juned dah beresin dong." Aku mengelak dari pekerjaan itu. Memangnya aku babu di sini.
"Pastikan dulu dong, Mel. Udah tahu presentasi hari ini, malah datang telat." Rutuk Ajeng. Aku mencibir.
"Aku tidur telat tadi malem."
"Ngapain, sibuuk? Nganter bonyok lagi?" ah, mau tau aja.
"Ya begitulah."Aku hanya mengiyakan saja pertanyaan Ajeng sebelum dia bertanya lebih banyak lagi. Biasanya dia akan bertanya apakah aku juga belanja dari malam. Oho, mana mungkin aku belanja, bukankah gajiannya baru hari ini? Dan kalau aku sampai mengatakan aku belanja maka dia akan bertanya lebih banyak lagi mengenai trend mode terbaru di butik-butik yang aku kunjungi. Oh, inginnya aku bebas dari pertanyaan itu.
"Oke, kalo begitu. Siapkan presentasinya dengan sempurna. Awas jangan telat masuk aula." Aku menguap mendengar ancamannya. Jujur, aku benci rutinitas ini. Presentasi lagi, presentasi lagi, apa tak ada orang lain lagi selain aku yang bisa presentasi. Huh, masih mending kalo gajiku bisa nyaingin manager marketingku yang keliatan bego itu. Ternyata, aku hanya seperempatnya kurang dikit dibandingkan dia. Bagaimana kalau Ajeng aja yang presentasi? Tapi itu pun tak mungkin, cewek berambut pirang itu kan cuman bisanya mengatur dan mengomel sepanjang hari.Dasar sekretaris!
Okelah, bagaimanapun juga aku harus keliahatan tampak berwibawa dan sempurna hari ini. Perjanjian kerjasama yang akan digulirkan antara perusahaanku dan perusahaan pak Alex adalah sangat penting.Dan mungkin saja jika kesepakatan itu berhasil aku bisa naik gaji lebih dari dua ratus persen. Tapi, mungkin gak ya? Aku kadang BT juga perusahaan besar ini kok menggaji karyawannya gak seimbang dengan effort yang dikeluarkan. Ssst, dalam hal ini yang aku maksud adalah aku sendiri. Ya, aku! Seharusnya aku mendapatkan gaji lebih dari itu lho! Alasannya? Banyak!
Aku harus mempersiapkan semua kesepakatan dengan sempurna. Dan terbukti aku selalu sempurna!
Aku harus melobi klien sampai tercapainya deal memuaskan. Dan terbukti berhasil!
Aku harus tampil sempurna di setiap kesempatan. Dan ini membutuhkan biaya banyak!mana cukup gaji sebegitu!
dan bla..bla..bla..
Ah, sumpek deh aku!
Okelah, aku harus tampil sempurna! Dan hari ini cukup segar (hanya cukup segar lho!) karena hari ini kan GAJIAN! Hure!!!hemmm….
Kring..kring…kring…
Nah kan, pasti Ajeng mau mengingatkan lagi deh! Tanpa berniat mengangkat telpon aku langsung ngibrit ke aula.
Masuk ke aula sudah tercium gelagat gak enak. Aku mandang semua isi ruangan. Ooo…Ajeng dan Fransis (atasanku yang galak) serta Bapak Alexander dan sekretarisnya sudah duduk manis disana.Ajeng masih mendekatkan telepon wirelessnya di telinga, hihihi..dia pasti masih menelpon ke mejaku. Begitu melihatku dia langsung menurunkan teleponnya dengan gemas.
Aku tersenyum lebar dan menganggukkan kepala.
"Maaf, saya telat." Mata Fransis melotot sebal ke arahku. Aku mengedipkan sebelah mataku padanya.
"Baru juga sepuluh menit." Celetuk Ajeng
Bapak Alexander menganggukkan kepala kearahku, senyumnya mengembang. Aih tampannya! Kuperkirakan bapak tampan ini baru memiliki satu anak berusia balita, tentu saja sudah memiliki istri yang cantik.
Aku menarik kursi di sebelah Fransis
"Nah, ini berarti kita sudah siap melakukan presentasi." Fransis memandang ke arahku.
"Baiklah."
Lalu aku segera membuka lap top mengeluarkan materi presentasi dan mulai bercuap cuap cuap….
Plok..plok..plok…usai presentasi bapak Alexander memberikan tepukan diikuti oleh 3 ekor manusia lainnya. Aku tersenyum penuh kemenangan.
"Pada dasarnya saya kagum dengan ide-ide kreatif dari anda. Itu sebabnya saya ingin acara launching produk saya nanti anda bisa membuatnya sespektakuler mungkin. Saya percaya anda bisa membuatnya." Komentar lelaki berjas hitam dan berdasi biru itu.
"Terima kasih. Kepuasan klien adalah moto kami."ujarku.
Dan berhasil! Presentasiku kali ini berhasil. Kontrak kerjasama dibuat saat ini juga. Pak Alex yang ganteng itu puas dan yakin dengan presentasiku. Yes! But, hemm..ini tidak berarti gajiku naik. Waaaaa…tiga juta! Puih!!!
Aku menuruni tangga dengan banyak pikiran.
Tiga juta hari ini akan masuk ke rekeningku dan dalam beberapa waktu udah menghilang bak bayangan ditabrak terang.
***
Acara makan siang kali ini aku janjian dengan Denti, sahabatku yang kebetulan letak kantornya hanya beberapa meter dari kantorku.
"Gajian nih. Masa mukamu kayak orang susah gitu." Goda Denti. Tangannya dengan iseng menarik rambutku.
"Bvlgari ngeluarin model baru lho. Mau ikut berburu?" lanjut Denti tanpa dosa. Apa dia gak nyadar kalo aku sedang merana. Sebagai sahabat sedari SMP sepertinya Denti tak pernah sadar kalau aku mengkamuflase semua tingkahku bukan menjadi diriku sendiri.
"Hallo…" Denti menggerakkan tangannya naik turun di depan mataku.
"Aku tak bersemangat untuk belanja." Aku menarik nafas panjang. Lalu menyendokkan nasi tanpa semangat.
"Tumben! Kenapa? Atau ibumu sudah duluan membelinya?" ini dia! Aku dan mama memang terkadang suka balapan membeli barang-barang keren. Siapa cepat! Dia keren!!
"Enggak tau dan nggak mau tau. Biarkan saja. Toh aku bisa pinjam ke mama kalau pun beliau beli." Suapan nasi yang biasanya enak ini terasa basi.
"Well, memang kamu akan biasa meminjam baju ibumu. Bukankah baju Prada ini pun milik ibumu?" hebat, hebat sekali Denti seratus persen bisa menebaknya. Denti menyentuh baju yang kupakai. Mungkin dia pernah melihat mama memakai baju ini.
Aku mengangguk, " bingung! Aku bingung sekali pakai baju hari ini."
"Nah, ini berarti kita harus belanja. Hore!" teriak Denti
"Rasanya tidak. Aku harus menghentikan kebiasaan itu. Aku akan mengerem itu. Kukondisikan pada keuanganku, tentu saja." Uuups, aku jujur. Yes! Rasanya ada kelegaan mengalir
"Maksudmu?" tentu saja Denti bengong. Mana mungkin seorang Melia Sheren Akbar kehabisan uang. Dia tidak tahu kalau seorang Melia begitu gengsi untuk meminta bantuan orang lain, apalagi urusan financial, apalagi kepada orang lain, apalagi kepada mama dan papanya. Bukankah Melia sukses?
Denti membenahi kacamata Chopardnya, melenguh panjang, "Kamu aneh. Kamu berubah." Katanya pelan. Garpu dan sendoknya ditutup menyilang di piringnya yang masih penuh. Denti kehilangan selera makan. Mungkin, karena dia menduga akan kehilangan teman untuk memburu barang-barang bermerk.
"Kamu adalah sahabatku, Den. Aku harap satu saat aku bisa jujur padamu." Aku membuka tas aignerku dan mengambil tissue, mengelapkan di sisi mataku. Airmataku menetes.
Tulalit-tulalit
Mom calling
"Yup…" aku membuka percakapan
"Mel, kamu gak lembur hari ini?" lembur? Ah, tentu saja mulai saat ini aku takkan lembur lagi.
"Enggak, memang kenapa ma?" Mungkin mama mau minta antar lagi.
"Cepet pulang ya? Mama dan papa mau membicarakan sesuatu denganmu."
"Ada apa?" jangan sampe mama mau menanyakan kenaikan jabatanku lagi deh!
"Biasa, masalah jodoh! Ah, pokoknya kamu segera pulang ya sayang? I luv u."
"Yes, mom. I luv u too." Mungkin mama memang mencintaiku, seperti juga bagaimanapun aku mencintainya. Tapi mengapa ya? Rasa cinta itu kadang terasa tidak adil?
***

INI HANYA BAB SATU SAJA...BAB SELANJUTNYA AKAN SEGERA RAMPUNG....TUNGGUIN YAH......???!!!!!

No comments: