12 March 2014

Menuju Indonesia Ber-Empati

#Sekolah Perempuan akan mendukung gerakan Indonesia berEmpati

Dalam satu diskusi makan siang di Bogor, ada satu hal yang menarik dalam obrolan saya bersama dua perempuan dengan profesi berbeda yaitu bagaimana social media bisa menjadi sebuah wadah melejitkan profesi, potensi, dan kemampuan diri bukan sebagai dinding tempat mencaci, mengeluh, memojokkan, hingga membakar orang lain.
“Perusahaan saya sedang mengatur sebuah kebijakan karyawan dalam hal menggunakan social media, salah satunya facebook. Ketika di dalam riwayat pekerjaannya dia mencantumkan nama perusahaan berarti dia harus menjadi brand perusahaan. Rasanya minta ampun deh lihat SDM sekarang, telat gajian semenit aja  bisa nyampah di facebook, beda pendapat ama teman kebakaran di twitter, dan berbagai hal yang sebetulnya bisa merugikan dia sendiri.” Ujarnya antusias.
Menurutnya kejadian saling menggugat karena pencemaran nama baik tidak akan terjadi jika semua orang berempati pada setiap persoalan. Menurutnya lagi, persoalan tidak akan selesai melalui sumpah serapah di social media, malah justru membuat masalah bertambah besar.
EMPATI sebuah kata yang terdiri dari enam huruf ini dampaknya memang luar biasa.  Bayangkan jika seseorang mengatakan kemarahannya pada orang lain melalui status di socmed, apakah Anda merasa nyaman? Apalagi jika bahasa yang digunakan sangat kasar. Persoalannya tidak berhenti disana, mungkin Anda akan berpikir, benarkah orang yang dicacimakinya sedemikian buruknya? Atau bahkan Anda malah jadi antipati padanya? Atau malah mendadak Anda kepo dan mendukungnya dengan ikut marah pada orang yang dianggapnya bersalah? Benarkah persoalan kesalahan ada pada dia yang dicaci? Atau, atau, atau, dan berbagai kemungkinan lainnya yang bisa saja terjadi.
Ada satu hal lucu, suatu saat saya menangkap status yang menshare sebuah artikel positif tentang orang nomor satu di Indonesia, di statusnya dia menulis, “kalau berita kayak gini, saya yakin jarang yang share :)” dan saya tersenyum dalam hati. Benar sekali, sebuah artikel yang menarik tentang seseorang yang mungkin sedang jadi trending topic dalam “kelemahannya” akan tershare dengan cepatnya, namun jika yang positif, orang malah enggan menshare — entah kenapa.
Maka, ketika suatu saat saya membaca sebuah cerita menarik mengenai seoranga istri yang hobinya mengkritik sang tetangga yang dianggapnya tidak bisa mencuci baju. Lalu, suatu saat sang istri kaget karena cucian tetangga jadi kinclong minta ampun, suaminya berkata, “Ma, kemarin mama melihat jemuran tetangga dari balik jendela kita yang kotor, setelah tadi pagi saya membersihkan kaca jendela maka mama bisa lihat bahwa yang kotor bukan baju yang dia cuci, tapi jendela kitalah yang belum dibersihkan.” Ujar sang suami. Ini artinya betapa mudahnya kita melihat kesalahan orang lain sehingga lupa dengan kesalahan kita sendiri.
Empati kemudian menjadi sebuah awal koreksi kita atas langkah yang kita ambil. Ketika orang lain kita rasa salah langkah, bukan dengan cacimaki dia akan mengubah diri, tapi dengan bantuan kita sebagai sahabatnya. Kita pun akhirnya akan belajar darisana. Ketika kita merasa marah, jangan luapkan kemarahan pada orang lain tapi bertanyalah pada diri kita sendiri, “apakah kita pernah membuat orang lain marah? Apakah kita memang salah? Apakah kita berhak marah?” Dan berbagai pertanyaan lain yang kemungkinan bisa menaham kita untuk memuntahkan semua emosi kita melalui berbagai cara termasuk menulis di social media.
Bayangkan jika EMPATI ada di garda depan dibandingkan ANTIPATI maupun SIMPATI yang berlebihan, maka kita semua akan belajar melangkah dengan lebih berhati-hati, baik dalam sikap, lisan, hingga tulisan.
Sulitkah membangunnya? Rasanya tidak karena kita bisa memulai dari diri kita sendiri sebelum menularkannya pada orang lain. Mari kita sukseskan gerakan menuju Indonesia berEMPATI! 
Bismillah….

No comments: