15 February 2013

Suka Duka Mengelola Grup IBU-IBU DOYAN NULIS, Gudangnya para Ibu :)


Perempuan memang diciptakan untuk bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu :)
_indari mastuti_

Hemmm....
Disela-sela jadwal penggarapan naskah yang luar biasa serta stress tingkat tinggi mengejar deadline, saya jadi pengen berbagi. Disela-sela hiruk pikuk dunia naskah yang selama 3 tahun ini saya geluti, diam-diam ada rasa syukur yang saya ingin panjatkan pada sang Pencipta diri ini.
Bersyukur...ya, sangat bersyukur!
Saya bersyukur sebab saya tidak sendirian, ada 1.707 ibu yang senantiasa menemani saya dalam komunitas yang sangat saya cintai yaitu grup IBU-IBU DOYAN NULIS. Grup yang lahir pada bulan Mei 2010 ini merupakan grup yang saya ciptakan untuk menjadi wadah para ibu untuk senantiasa produktif walau status resmi yang disandang kebanyakan adalah Ibu Rumah Tangga alias emak-emak biasa :).
Kenapa saya membangun grup ini? Tidak lain karena saya sudah merasakan asyik dan nikmatnya bekerja di rumah namun tetap produktif menulis, sehingga tanpa keluar rumahpun bisa tetap menghasilkan karya ataupun uang. Saya hanya ingin berbagi kesempatan dan cerita renyah tentang asyiknya menjadi penulis. Saya ingin semua ibu yang ada di rumah tetap berpikir maju bahwa rumah adalah tempat yang paling indah untuk melejitkan karir. Karir tetap melejit namun keluarga tetap legit ^^.
Ada suka dukanya mengurus grup tercinta ini, beberapa kali saya ditegur anggota grup karena banyaknya info yang saya kirimkan, menurut mereka itu mengganggu, lantas mereka menyarankan saya memposting informasi di wall grup. Well, maaf ya bu, bukan saya tidak mau memposting informasi di wall, tapi tidak semua ibu mengecek wall grup setiap saat sehingga bisa jadi informasi yang saya sampaikan tidak berguna karena nggak ada yang baca :). So, biasanya saya memberi pilihan pada yang protes, tetap di grup dengan inbox-inbox yang pasti akan muncul atau keluar dari grup jika itu mengganggu.
Kisah seru lainnya adalah ketika saya memposting kebutuhan penulisan, saya akan dibanjiri oleh email para ibu yang berminat dengan informasi tersebut. Bisa 30- 60an ibu yang merespon sehingga sudah dipastikan saya harus sangat ketat menyeleksi pengajuan :(.
Setelah terpilih kandidatnya dan siap melempar pekerjaan, ada juga kisah seru lainnya....ehem ehem ehem, ternyata tidak sedikit yang harus saya kejar-kejar untuk menepati deadline, bahkan beberapa diantaranya bikin saya cenut-cenut karena hampir dikirim bom ama penerbit yang merasa deadline yang kami sepakati ngaco kelas berat hahaha
Saya memahami alasan beberapa ibu yang terpilih menulis tapi tidak tepat deadline, kerapkali keluarga menjadi alasannya. Mulai dari anak yang sakit, diajak suami tugas keluar kota, dan alasan domestik lainnya....kalau udah begitu saya ‘mati gaya’ wong saya juga ibu-ibu rumah tangga biasa, jadi tahu bener hal itu J
Nggak heran dengan kisah seru itu ketika banyak bapak-bapak tanya ini, “Mbak, susah nggak sih ngelola komunitas ibu-ibu?”, saya langsung jawab, “Ternyata susaaaaah jugaaaaaa!” hihihihi
Selain kisah seru yang bikin jantung berdebar, keringat turun deras, dan kepala terasa berat, hal manisnya juga banyak loooooh.
Hal yang paling saya sukai adalah betapa mudahnya saya mendapatkan penulis pada setiap pemesanan penerbit, urusan nyari 60 penulis dalam 1 haripun bukan lagi sesuatu yang sulit. Ini saya alami pada setiap pengerjaan proyek pembuatan buku yang jumlahnya puluhan. Sekali posting informasi, lamaran jadi penulis akan membludak, oooh senangnya...
Hal yang lainnya yang tidak kalah manis adalah saya jadi memiliki segudang sahabat, sahabat yang senasib dan sepenganggungan ...halah lebay. Jujur saya, saya merasa memiliki komunitas yang gue banget, bahkan ketika saya tanya beberapa sahabat yang bergabung dalam grup, merekapun merasakan hal yang sama. So, jangan tanya hebohnya kami ketika sedang kopdar J
Apa lagi yang saya sukai dari grup ini, semua ibu SANGAT CEPAT BELAJAR! Banyak penulis pemula di grup ini, namun jangan tanya masalah produktifitasnya. Okelah di awal menulis kualitasnya tidak begitu bagus, namun seiring jam terbang (dan nggak perlu lama) segala masukan dari editor kami akan cepat dilahap para ibu sehingga mereka cepat banget jadi penulis yang cukup diandalkan..horeee!
Inilah yang membuat saya makin semangat mengelola dan mengembangkan grup ibu-ibu doyan nulis. Grup ini juga yang mengantarkan saya menjadi pemenang Perempuan Inspiratif Nova 2010 dan kantor Indscript Creative didatangi media cetak serta elektronik. Semua karena bisnis saya merupakan bisnis berasal dari seorang ibu, dikembangkan oleh ibu-ibu, dan untuk produktifitas ibu-ibu!
Semoga, Grup Ibu-ibu Doyan Nulis terus berkembang dan terus dapat meningkatkan kualitas serta kuantitas karyanya. Ayo ibu-ibu, SEMANGAT PAGI! ^^

Apa kata para ibu tentang grup Ibu-ibu doyan nulis?

Wanita memang diciptakan "hobi bicara". Bahkan, menurut sebuah sumber penelitian sosial, dalam sehari sekitar 5000 kata dianggap normal untuk ibu-ibu. Namun, mengucapkan kata-kata sedemikian banyak akan lebih bermanfaat jika "curhatannya" yang berupa verbal dalam tulisan maupun ucapan mempunyai dampak yang signifikan. Alangkah baiknya jika memberdayakan "hobi bicara" ini dalam tulisan juga. Istilah sharing pengalaman dan ilmu ibu-ibu yang enggak ada sekolahnya, bisa sama disimak dan didiskusikan. Oleh karena itu, saya sangat mendukung aktivitas Ibu-Ibu Doyan Nulis.
(Angy Sonia, 30, Bandung)                                              

Sebenarnya sudah dari dulu saya ingin bertemu dengan sebuah komunitas yang menekuni bidang tulis-menulis, tapi tidak ketemu. Kebetulan ada suggestion tentang "Ibu-ibu Doyan Nulis". Wah, dari namanya saja "Doyan nulis", saya langsung senang. Apalagi ada atribut ibu-ibunya. Jadi, klop, deh! Karena secara pribadi saya bisa merasakan apa dan bagaimana dengan dunia ibu-ibu.
Ternyata kesenangan saya tidak hanya berhenti di situ. Meskipun saya tidak merasakan langsung event-event yang diselenggarakan, namun hanya melalui up date- up date yang diterima via dunia maya, saya bisa merasakan sesuatu yang dimiliki Ibu-Ibu Doyan Nulis, tetapi tidak dimiliki oleh komunitas yang lain, yaitu "ketulusan dan ketuntasan". Hal ini terlihat dari setiap kegiatan yang berusaha seminimal mungkin membebani (biaya) para pesertanya. Kemudian, dilanjutkan dengan penyaluran atau pemberian kesempatan bagi peserta yang berpotensi untuk menyalurkan karyanya.  Semangat untuk Ibu-Ibu Doyan Nulis!
(Anik, 29 th, Bali )

Grup ini membuat saya bersemangat menulis karena saya memperoleh banyak ilmu dari teman-teman sesama anggota.
(Tita, 42, Bandung)

Bergabung dengan Ibu-Ibu Doyan Nulis membuat obsesi saya (menjadi penulis) kembali mencuat (setelah cukup lama terkubur oleh berbagai rutinitas harian, bulanan, dan tahunan).
Sekarang saya mulai giat lagi membaca (saya percaya, penulis yang baik - pada umumnya - berasal dari pembaca yang baik. Saya juga mulai menerima terjemahan lagi (setelah berhasil negosiasi dengan pihak sekolah, bahwa saya hanya punya waktu 2 hari per minggu untuk sekolah, atau dengan berat hati saya akan mengundurkan diri dari Kegiatan Belajar Mengajar - KBM).
Saya mulai lagi menulis dengan melayangkan surat-surat panjang kepada sahabat lama melalui FB (via messages). Seorang sahabat lama berkomentar, “Senang sekali kembali berkomunikasi denganmu.” - dulu surat-surat saya biasa disebut "koran”.
Saya terbiasa menulis hal-hal yang menarik hati, yang sedang membebani pikiran saya, pun yang saya lihat, dengar, atau rasakan. Namun sekarang, saya pun memikirkan untuk menulis hal-hal yang berguna untuk pembaca.
Begitu terjemahan selesai, saya berniat menulis untuk kolom khusus di suatu majalah (semoga terlaksana). Nanti saya ceritakan perkembangannya.
(Mieke, 56 tahun, Bandung)

Manfaat secara langsung sih belum begitu berasa. Namun, dengan bergabung di komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis ini saya jadi tahu bahwa siapa pun tidak terbatas usia dan status ibu rumah tangga bisa menghasilkan karya lewat tulisan.
Informasi mengenai pekerjaan penulis pun membuka mata saya bahwa menulis selain sebuah hobi juga dapat dijadikan sebuah pekerjaan yang cukup menyenangkan.
Suatu hari nanti saya pun berharap bisa bergabung lebih eksis dan bisa menghasilkan karya tulis.
(Arie Aleida,  31 tahun, Bekasi)

Grup “Ibu-Ibu Doyan Nulis (meskipun saya belum jadi ibu-ibu) telah ikut membangun atmosfer menulis bagi diriku. Hingga energi menulis tak pernah mampu lari dari diriku.
(Neti Suriana, 26 tahun, Riau)



PS; Ajak ibu-ibu yang lain untuk bergabung dalam grup ya.....Semakin banyak ibu bergabung, semoga semakin jaya ibu-ibu :))



TRIBUN JABAR, 7 Januari 2011 Semakin memantapkan tujuan adanya Indscript Creative adalah untuk produktifitas para Ibu. Ibu berminat bergabung dengan kami? Silakan kirimkan CV ibu ke indscript.creative@gmail.com subject: IBU MENULIS Salam Kompak, Indari Mastuti Direktur Redaksi dan Pemasaran Indscript Creative
Add captionLiputan STV Bandung, 16 Maret 2011 Ditayangkan Sabtu, 19 Maret 2011, Jam 19.00

2 comments:

ita agustina said...

awalnya nyasar aja sih nemu grup IIDN...tapi emang lg tertarik juga ma kegiatan menulis. Semoga grup ini bisa selalu mensupportku agar terus menulis, menulis apapun. Sering aku nulis status di FB, di BB tentang kegiatan menulis ku di grup ini, serta-merta teman-teman pun penasaran dan kuceritakanlah ttg grupku tercinta ini. Kelak kalau bukan aku yang jadi penulis best seller, mungkin salah satu temanku itu tadi, lumayan kan punya teman penulis best seller...wkwkwkwkk..

indari mastuti said...

hehehehe...moga IIDN membawa manfaat ya Mbak Ita agustina, ayoo ajak teman-temannya gabung