Bercerminlah pada Diri

Seringkali kita menganggap bahwa orang lain salah melakukan ini dan itu. Namun, kita lupa bahwa banyak kemungkinan kita pun melakukan hal yang salah.
Ada beberapa hal yang mulai saya cermati saat ini.
Pertama, Mengakui kesalahan. Kedua, bercermin pada diri. Dan ketiga, menerima koreksi sebagai perbaikan secara proporsional.
Mengakui kesalahan. Ada masa-masa di mana saya begitu egois tidak mau mengakui kesalahan yang dilakukan. Sehingga perseteruan dengan kawan akibat sama-sama merasa benar sering terjadi. Kini, hal itu sudah mulai bergeser, ketika saya salah, saya mulai dapat mengakui kesalahan tersebut dan meminta maaf ketika kesalahan itu terkait pada pihak yang lain.
Bercermin pada diri. Siapa pun di dunia ini tak ada yang sempurna. Cermin diri wajib digunakan supaya kita tidak melulu melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan orang lain, lantas memvonis dan menyudutkannya. Bercermin dalam diri sedemikian penting karena bisa jadi nasehat-nasehat bijaksana yang diberikan kepada orang lain malah bisa digunakan untuk diri sendiri. Bukankah itu lebih bijaksana?
Menerima koreksi sebagai perbaikan secara proporsional. Nah, inilah yang saya sukai. Kali ini saya lebih menyukai koreksi dibandingkan pujian. Hal ini dapat meminimalkan kemungkinan untuk 'besar kepala' dan menggantinya dengan –lagi-lagi- memperbaiki diri secara berkesinambungan.
Semoga saja beberapa hal di atas bisa terus menerus saya lakukan karena bagaimanapun juga ternyata ketiganya membawa saya berada pada tingkat –nyaman- pada diri. Insya Allah.

(Bandung, 8 Desember 2005)

No comments:

Post a Comment